How to play gambling_Indonesian Baccarat_Baccarat Tie_Baccarat Strategy Forum_Gambling to make money

  • 时间:
  • 浏览:0

“BookmBookmaker websiteaker websiteapa? Ke bookfair sama Bookmaker websitetemaBookmaker websiten-teman? Sama siapa aja? Nggak usah.”

“Nanti malam kita dinner ya, beb?”

Baginya kamu hanyalah miliknya, dan dia adalah nomor satu. Dia akan cemburu buta bila kamu jalan dengan teman-temanmu. Dia bahkan tidak rela dinomorduakan setelah keluarga. Katanya dia cemburu karena sayang. Yang sebenarnya adalah, dia berusaha keras untuk membatasi interaksimu dengan keluarga. Dia sedang memaksakan dirinya untuk menjadi pusat duniamu.

Membolak-balik kenyataan dan membuat alasan adalah keahliannya. Bukannya mengakui kesalahan, dia justru membuat seolah-olah kamu yang salah. Kepandaiannya mengubah fakta, bisa membuatmu merasa bahwa dirimu memang layak disalahkan dan disakiti.

“Beb, kamu lagi nganggur kan? Kerjain tugasku ya?”

“Kamu bego banget sih, gini aja nggak ngerti,”

Meski tidak menimbulkan bekas yang terlihat seperti kekerasan fisik, bukan berarti kekerasan psikis ini tidak bahaya lho. Malah bisa jadi efek yang ditimbulkan lebih berbahaya karena berupa trauma. Dan kalau dibiarkan, bisa juga berkembang ke kekerasan fisik. Jadi, mumpung masih di tahap pacaran, kenali baik-baik pasanganmu. Jangan hanya karena mengaku cinta, lalu kamu terima saja diperlakukan semena-mena. Ingat ya, kamu sangat berharga!

“Ng, iya deh.”

“Ya elah, bentar aja. Bilang aja kamu udah lama nggak ketemu kita-kita. Ya? Ya?”

Ancaman putus adalah senjatanya. Awalnya dia minta dikerjakan tugasnya. Besok dia memaksamu untuk mengikuti hobinya. Lalu dia akan memaksamu menyukai apa yang dia suka. Jangan diteruskan. Lama-lama dia bisa memaksamu melakukan hal-hal yang tidak kamu mau. Hubungan seksual, misalnya.

“Kamu nggak mau dinner sama aku? Nggak mau tahu kamu harus ikut,”

“Tapi aku udah lama nggak ketemu mereka, beb. Sekalian reunian,”

Sekilas memang terlihat seperti aturan kocak yang bisa kamu temui di meme-meme bercandaan. Tapi itu terjadi dalam hubungan yang diwarnai kekerasan psikis. Bila ada hal yang tidak sesuai rencana atau tidak ada tempatnya, dia akan menyalahkan orang lain. Mengakui kesalahan tidak ada dalam kamusnya.

Bukan rahasia bila cinta memang bisa membutakan semuanya. Bahkan ini itu bisa dibenarkan atau dimaklumi kalau memakai alasan karena cinta. Hal inilah yang tanpa disadari memicu kekerasan dalam sebuah hubungan, yang sayangnya sering tidak disadari.

Kekerasan hubungan tidak hanya bisa terjadi dalam rumah tangga, dan dalam bentuk kekerasan fisik. Kamu yang masih pacaran bisa saja mengalaminya, bukan dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan dalam bentuk kekerasan psikis. Hanya saja, karena terlanjur cinta, seringnya kamu tidak menyadarinya. Meski sebagian besar korban KDRT adalah perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan pria juga bisa mengalaminya. Yuk, kita kenali tanda-tanda kekerasan dalam hubungan.

Ketakutan berlebihan pada pasangan adalah tanda bahwa hubungan tak sehat. Kamu takut melakukan kesalahan, dan bahkan kamu enggan membicarakan suatu hal karena takut kamu akan marah. Padahal dalam hubungan yang sehat, segalanya bisa dibicarakan dengan baik-baik. Secara fisik, memang tidak ada kekerasan terjadi. Tapi apakah secara psikis kamu tidak tertekan dalam hubungan semacam itu?

“Lho kok udah pulang? Kamu nggak ikut nongkrong dulu sama anak-anak?”

Sekali berkata kasar, mungkin itu keceplosan. Apalagi dia sudah minta maaf dan bilang hanya bercanda. Bila kamu marah, dia akan dengan jagonya bersikap romantis untuk minta maaf dan merebut hatimu lagi. Tapi besok-besok dia akan melakukan hal yang sama. Itu artinya dia memang gemar mengeluarkan kata-kata kasar yang melecehkan. Belum lagi emosinya sering meledak tiba-tiba dan tidak terkontrol. Kebiasaannya membanting barang atau mengeluarkan kata-kata kasar saat sedang marah bisa berbahaya bila kamu tetap bertahan.

Pernahkah dia memarahimu di muka umum? Membuatmu malu dan merasa tak nyaman di hadapan orang lain? Pada saat begitu, tekanan yang kamu rasakan pastinya berlipat ganda. Selain takut kepadanya, kamu juga merasa dipermalukan. Benar? Setiap hubungan pasti ada masalah. Tapi pasangan yang baik, tentunya bisa mengerti bahwa alih-alih mempermalukan di depan umum, lebih baik masalah itu dibicarakan berdua untuk ditemukan solusinya.

Curiga adalah hal yang selalu muncul di pikirannya. Dia akan memeriksa ponselmu, mengawasi ke manapun kamu pergi, menginterogasimu atau bahkan temanmu, dan banyak hal lagi yang dia lakukan untuk memastikan kamu tidak macam-macam di belakang. Lagi-lagi, itu bukan tanda dia perhatian. Tapi tanda bahwa dia sedang mengekang dan mengendalikan seluruh hidupmu.

“Iya.”

“Jadi nggak mau nih? Oke. Cukup tahu. Kita selesai di sini aja,”

“Ih, tugas dikerjain sendiri lah!”

“Masa? Nggak percaya. Sini lihat! Dosen pembimbingmu laki-laki?”

Bila tiba saatnya kamu lelah dengan segala sikap over-protective dan posesif-nya, dia tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Dia akan melakukan apa saja untuk mempertahankanmu. Mulai dari akan menyakitimu, menyakiti teman dan keluargamu, sampai mengancam akan bunuh diri bila kamu tinggalkan. Ini bukan soal cinta yang mendalam, sehingga dia rela melakukan apa saja supaya kamu tidak pergi, melainkan sebuah bentuk pemaksaan kehendak dan keinginan untuk terus menguasai dan mendominasi.

“Nggak deh. Udah disuruh pulang sama pacar aku.”

“Kamu tahu kenapa aku selingkuh? Karena kamu selalu sibuk! Ke mana kamu waktu aku pengin cerita? Ke mana kamu waktu aku pengin ditemani makan? Kamu sibuk ini itu! Wajar kalau aku cari orang lain! Kalau kamu mau sedikit aja luangin waktu buat aku, nggak akan begini ceritanya! Kamu tahu kan arti sebuah hubungan?”

“Lho, aku kan mau ngerjain skripsi. Udah ditagihin sama dosen,”

“Kamu SMS-an sama siapa?”

“Masih muda? Udah punya istri belum?”

“Nggak usah. Nanti aku yang antar ke bookfair,”

Dominasi adalah salah satu bentuk kekerasan dalam sebuah hubungan. Selalu ingat bahwa hubungan itu antara dua orang, yaitu kamu dan dia. Kamu juga punya hak yang sama dengannya. Jadi bila dia memaksa untuk mengambil semua keputusan dan tidak memberimu ruang untuk berpendapat, lupakan saja pertimbangan untuk serius ke depan.

“Dosen pembimbing.”

“Enggak deh. Hehe. Kapan-kapan lagi ya.”